-->

Budidaya Singkong Gajah

0 komentar
Singkong Gajah
Berawal dari sebuah sms yang sering masuk ke hp saya dan  menanyakan :
Mas saya mau belajar budidaya singkong gajah , boleh tidak ?
Tentu saya jawab boleh !! Tapi sebenarnya saya ini baru memulai budidaya singkong sejak 2 tahun yang lalu. Jadi mengenai budidaya singkong sebenarnya bapak – bapak yang nanya itu lebih tahu daripada saya , karena mereka rata – rata adalah petani singkong.

Seperti kemarin ketika ada tamu dari jogja , namanya pak isgianto. Begitu sampai di rumah saya kita berbincang banyak mengenai budidaya singkong , , ' beliau paham sekali tehnik cara budidaya singkong yang baik , jadi akhirnya saya malah yang banyak bertanya dan belajar mengenai budidaya singkong ini. He he . .
Ketika hendak mau berpamitan pulang saya di kasih kartu namanya , ternyata beliau adalah prof. Isgianto 
[ guru besar uny jogja ].

Singkong adalah tanaman yang mudah di budidayakan dan tahan terhadap segala cuaca exstrim , singkong dapat di tanam mulai awal musim penghujan hingga menjelang kemarau. Pengalaman saya singkong setelah di tanam umur 2 s/d 7 bulan tidak akan mati meskipun tidak ada hujan 3 bulan berturut turut. Singkong ini akan stagnan atau bertahan hidup saja di musim kemarau dan begitu musim penghujan tiba dia akan tumbuh berkembang lagi. Sangking mudahnya membudidayakan singkong , stek bibit setelah kita tanam tanpa di apa apain hingga panen tiba ini pasti berbuah tp untuk mendapatkan hasil yang maksimal kita perlu merawatnya dan  melakukan pemupukan.

Dengan perawatan & tehnik budidaya yang baik singkong gajah dapat menghasilkan ubi hingga 40 kg / pohon. Tapi karena saya tanamnya asal - asalan saya cuma dapat rata - rata 20 kg / pohon.

Apa itu asal – asalan ?
Asal – asalan adalah asal tanam & asal mupuk [ tidak ada tehnik khusus , seperti menanam singkong pada umumnya ] , tapi hasilnya lumayan kok meskipun saya tanamnya asal – asalan begitu. 

Kenapa asal – asalan ?
1.Ini karena mayoritas petani di tempat saya karna perbatasan hutan jadi mereka menggarap lahan milik perhutani yang cukup luas untuk di tanami jagung di sela sela pohon jati , ketika musim tanam tiba para petani ini sibuk dengan lahanya sendiri jadi saya kekurangan tenaga untuk merawat kebun singkong saya.

2.Karena saya sendiri jarang ke kebun , setelah tanam hanya 1 – 2 bulan sekali saya ke kebun dan seluruh pekerjaan di kebun , saya suruhan orang untuk menanam dan merawat ala kadarnya.

Beberapa waktu yang lalu mas wijaya tennessey bertanya kepada saya mengenai hasil ubi yang saya capai hingga berapa kg per pohon untuk di jawa ? Saya jawab rata - rta 20 kg mas. Mas wijaya rada kaget juga ini kok cuma 20 kg  , mas wijaya menerangkan kalau di kalimantan itu hasilnya bisa mencapai 20 - 40 kg / pohonya. [ mas wijaya inilah bersama prof. Ristono yang menemukan singkong gajah ]

Disini saya mencoba untuk menjawab sendiri mengenai hasil yang saya capai kok cuma 20 kg ?
1. Mungkin karena saya tanamnya agak asal - asalan dan kurang perawatan.
2. Iklim di kalimantan berbeda dengan di jawa , di kalimantan tidak ada musim kemarau , hampir setiap 2 miggu sekali pasti ada hujan jadi berpeluang bagi singkong untuk berkembang terus tanpa ada stagnan.

Lalu apakah 20 kg adalah hasil yg buruk ?
Waktu pertama kali saya memutuskan untuk budidaya singkong gajah , target saya hanya 10 kg / pohon. Dan saya hitung jarak tanam 1 x 2 atau populasi tanam sekitar 5000 pohon / ha. Jadi kalau saya kalikan 10 kg per pohon maka saya akan panen 50.000 kg singkong dan waktu itu saya hanya menetapkan harga jual per kg rp.700 =  jadi kalau saya hitung saya bisa dapatkan rp.35 jt / ha

Dengan perawatan yang murah dan hasil panen yang melebihi target saya sebelumnya & harga jual rp.900 per kg saat panen tentu ini bukan hasil yang buruk bagi saya.

Demikian coretan dari saya mengenai  budidaya singkong gajah !!